KORELASI
MANUSIA DENGAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
- Pendahuluan
Komunitas bumi
dalam krisis. Tidak ada yang bisa menyanggah pernyataan dan kenyataan tersebut.
Selain adanya konflik ekonomi, sosial-politik dan peperangan, krisis yang
mengancam lebih banyak orang adalah krisis lingkungan hidup. Secara umum,
krisis lingkungan hidup didorong oleh dua hal berikut ini, yaitu:
- Pertambahan penduduk yang begitu pesat yang menuntut pemenuhan kebutuhan yang tak terbatas (bahan makanan, bahan bakar, energi, dsb).
- Kemajuan di pelbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
Krisis ini sebenarnya
sudah lama terjadi, namun agaknya manusia (secara keseluruhan) belum menyadari
akan bahaya laten yang terdapat di dalamnya. Manusia masih asyik menjadi
penguasa alam semesta1. Manusia
belum menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta ini, sehingga
krisis lingkungan hidup belum menjadi perhatian bersama. Padahal, dari berbagai
definisi tentang lingkungan hidup yang ada, kita diingatkan bahwa lingkungan
hidup adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari lingkungan hidup; dan
keduanya saling berinteraksi dalam sebuah ekosistem.
Manusia
merupakan komponen biotik lingkungan yang memiliki daya fikir dan penalaran
yang tinggi. Disamping itu manusia memiliki budaya, pranata sosial dan
pengetahuan sertaBumi semakin rusak karena keserakahan manusia. Akibatnya,
frekuensi dan eskalasi bencana di muka bumi yang disebabkan oleh perilaku
manusia (man made disaster) dan akibat kebijakan (policy made
disaster) semakin meningkat. Perusakan bumi akibat kebijakan adalah yang
paling berbahaya. Karena hal tersebut dilakukan secara sistematis, terlembaga,
rapi, dan “sah” secara hukum, yang dilakukan atas nama kebijakan pemerintah,
atas nama pendapatan dari aktivitas perusahaan, serta atas nama legitimasi
lembaga politik dan legitimasi ilmu pengetahuan dari lembaga pendidikan ataupun
konspirasi mereka dalam sebuah jejaring untuk memperdagangkan bumi.
Pemanasan
global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum
menjadi mengedepan dalam kesadaran multipihak. Pemanasan global (global
warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama
negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup
konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan
iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya
terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap
tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam
membuat kebijakan.
Pemicu utama
adanya perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming) adalah
meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak,
batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya
adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada,
Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup
masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk
negara selatan. Untuk negara-negara berkembangtinggi dari penduduk negara
selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga
berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu
industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi
negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti
Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan
baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor
dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat yang rusak
hutannya.
Menurut
temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel
internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah
lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005
terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi,
yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang
10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan.
Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin
panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin
maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta
meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di
negara-negara tropis
- Manusia dan Komunitas Bumi
Terjadinya
krisis lingkungan hidup saat ini tentunya tidak terlepas dari bagaimana manusia
berelasi dengan lingkungannya. Relasi ini pun ternyata mengalami perkembangan
sejak keberadaan manusia.
Pada
awalnya, ketika agama-agama primitif masih berkembang, manusia memandang segala
sesuatu yang ada di sekitarnya secara religius. Ada proses pensakralan terhadap
lingkungan hidup, sehingga pola yang dikembangkan adalah subjek-subjek.
Demikian pula yang terjadi pada masyarakat yang masih tradisional, di mana
masih ada tabu-tabu (pamali-pamali) yangdikembangkan. Selain itu
pandangan hidup dan sikap religius yang dikembangkan berdasarkan pengalaman
eksistensial mereka, turut menumbuhkan kesadaran ekologis mereka.Akan tetapi
ketika terjadi proses desakralisasi yang ditunjang dengan tumbuh-berkembangnya
agama monoteis, maka lingkungan hidup tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang
sakral atau sebagai subjek, tetapi objek. Saat itulah manusia mulai menjadi
penguasa atas lingkungan hidup dan kini kita diperhadapkan pada krisis
lingkungan hidup yang parah. Th. van den End memberikan argumentasi yang
dikemukakan oleh beberapa tokoh mengenai dari mana datangnya krisis yang sedang
kita alami ini dikaitkan dengan kekristenan, yaitu
·
Menurut Lynn White,
kekristenan dipersalahkan karena menempatkan manusia pada pusat dunia, karena
sifat anthroposentrisnya. Kekristenan membuat manusia percaya bahwa dirinya
merupakanpusat alam semesta, dan bahwa seluruh alam hanya diciptakan untuk
melayani dia.
·
Menurut Ritchie Lowrie,
Calvinisme harus dipersalahkan karena mengajak manusia untuk bekerja keras.
Akibatnya tak bisa tidak adalah pertumbuhan ekonomi yang besar. Timbullah dunia
perindustrian modern dan terjadilah krisis lingkungan.
·
Theodore Roszak, yang bertolak dari pengertian “teknokrasi”.
Teknokrasi berarti bahwa kehidupan manusia dan seluruh lingkungannya mau diatur
oleh teknik dan ilmu-ilmu pengetahuan. Tidak boleh ada proses-proses spontan,
karena yang bersifat spontan tidak bisa diperhitungkan sebelumnya, dan
membahayakan tujuan yang besar, yaitu menaklukkan dunia kepada manusia dan
menghasilkan produksi barang-barang yang sebesar mungkin. Dengan adanya sikap
ini, manusia memandang segala sesuatu di sekitarnya, termasuk sesamanya
manusia, sebagai obyek semata-mata; ia tidak berpartisipasi di dalam kehidupan
di sekitar dirinya, ia menjadi terasing daripadanya. Roszak juga
mempermasalahkan agama Kristen yang menempatkan manusia dalam relasi
subjek-objek dengan alam, dan menganggap alam sebagai kurang sempurna dan perlu
diperbaiki.
Dari
pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa seolah-olah kekristenan turut
bersalah atas kerusakan lingkungan hidup. Hal ini tentunya harus dikritisi
lebih lanjut. Karena jangan-jangan, “kekristenan” telah salah dalam menafsirkan
Alkitab ataupun telah dipengaruhi olehtujuan-tujuan politis dan ekonomis,
sehingga dikatakan turut merusak lingkungan hidup. Selain itu, di bagian dunia
yang minoritas Kristen, toh terjadi juga krisis lingkungan hidup. Artinya, ada
berbagai faktor penyebab dari krisis yang terjadi. Lagipula, jika kita memahami
secara utuh berita Alkitab tentang lingkungan hidup, maka sebenarnya
kekristenan memiliki sumbangsih yang besar dalam pelestarian lingkungan hidup.
Pada
dasarnya antropologi kristen memandang manusia sebagai pribadi yang
interpersonal sekaligus sebagai pribadi interrelasional dengan ciptaan lain di
dalam suatu komunitas hidup di bumi. Manusia juga dimengerti sebagai mahluk
ciptaan berkesadaran diri yang diundang masuk ke dalam hubungan interpersonal
dengan pencipta dan menjadi mitra Pencipta dalam menjaga dan memelihara
ciptaan. Manusia itu mitra utama pencipta, jadi pada hakekatnya manusia lebih
merupakan malaikat pelindung dari pada setan penghancur bagi alam karena dalam
dirinya terkandung martabat unik yang berbeda sekaligus mengatasi ciptaan yang
lain.
- Kesadaran Manusia akan Ekologi melalui Teologi Lingkungan
Kesadaran
akan perlunya usaha pelestarian lingkungan tidak muncul sekali jadi. Kesadaran
itu muncul berangsur-angsur melalui pengalaman interaksi manusia dengan
lingkungannya. Manusia semakin menyadari bahwa antara dirinya dan lingkungannya
terdapat hubungan yang sangat erat tak terpisahkan. Kesadaran itu akhirnya
melahirkan suatu disiplin ilmu yang baru, yang disebut ekologi.
Perhatian
akan masalah lingkungan hidup di zaman modern ini dimulai pada dasawarsa 50-an
di Amerika Serikat ketika terjadi pencemaran di kota Los Angeles akibat asap (smoke
fog) hasil pembakaran industri dan kendaraan bermotor. Pada dasawarsa yang
sama masyarakat Jepang digemparkan oleh peristiwa pencemaran limbah merkuri
(Hg) di Teluk Minamata yang memakan korban ribuan jiwa. Lama-kelamaan perhatian
akan krisis lingkungan hidup ini menjadi keprihatinan masyarakat dunia secara
bersama, termasuk di Indonesia – yang baru muncul pada dekade 60-an.
Salah satu
pokok yang ramai diperdebatkan dalam gerakan kesadaran ekologi ini ialah
hubungan antara pembangunan dan lingkungan hidup. Ada yang menuduh pembangunan
sebagai penyebab terjadinya kerusakan lingkungan. Tetapi ada juga yang
mengatakan sebaliknya. Kerusakan lingkungan hanya dapat diatasi melalui
pembangunan, sehingga kalangan ini (negara-negara industri maju) menuduh
negara-negara yang sedang berkembang sebagai penyebab terjadinya pemanasan
global.
Secara ekstrim, bisa dibilang masalah kepedulian
lingkungan kini hanya mitos belaka. Akibatnya kini kita rasakan, dimana bencana
datang silih berganti. Tampaknya, rangkaian penderitaan itu belum juga mau
berhenti. Secara materi, kerugian sudah tak terhitung dan yang paling parah
adalah hancurnya ekosistem secara keseluruhan di daerah bencana. Seperti banyak
diekspos, rentetan bencana itu adalah akibat dari tingkat eksploitasi terhadap
lingkungan yang sudah sangat mengkhawatirkan.
Teologi
lingkungan adalah tuntutan kesadaran beragama yang memiliki keterlibatan dan
keberpihakan penuh kepada lingkungan. Pembumian teologi lingkungan ini
bertujuan dan berperan untuk mendekonstruksi, menguji kembali sikap hidup dan
tingkah laku kita terhadap alam. Teologi lingkungan adalah sebuah perspektif
teologi tentang alam semesta yang mengkaji ulang posisi manusia dan tanggung
jawab etisnya dalam relasi kosmos. Ia yang nantinya akan membongkar keyakinan
bahwa manusia dan alam adalah dua “dunia” yang berbeda, yaitu manusia sebagai
”pusat” (core) dan alam sebagai hal yang subordinat aliasberbeda, yaitu
manusia sebagai ”pusat” (core) dan alam sebagai hal yang subordinat
alias ”yang lain” (the others). Pemahaman biner inilah yang seolah
menjustifikasi umat manusia sebagai subyek yang bisa seenaknya mengeksploitasi
alam.
Dengan
pembumian teologi lingkungan, diharapkan kita akan sadar bahwa semua ciptaan
Tuhan (manusia, alam, hewan) mempunyai hak untuk bereksistensi. Tidak ada satu
pun makhluk hidup yang berhak menguasai sesamanya, selain Tuhan. Karena dalam
tradisi agama-agama, semua karya di muka bumi berpusat pada Yang Esa, meski
secara skema muncul dalam pelbagai konsep, seperti Allah, Tao, ataupun Brahman.
- Refleksi Teologis Kesadaran Manusia dan Kerusakan Lingkungan
Banyak
tuduhan yang dialamatkan pada manusia sebagai penghancur homeostatis
alam. Thomas Berry berbicara tentang manusia sebagai makhluk bumi yang jahat
dan perusak. Ia juga menyebut kehadiran manusia sebagai penyebab penderitaan
dunia. 5Bonaventura,
filsuf-teolog di zaman patristik, dalam bukunya, “Perjalanan Menuju Jiwa
Allah”, juga menyebut alam semesta sebagai ”kitab alam” yang ditulis Allah
sebagai media manusia untuk bersatu dengan-Nya. Pasalnya, alam adalah
”sakramen” Tuhan, tangga untuk menuju keharmonisan bersama Sang Khalik. Sehingga,
jika kita menyadari hal tersebut, tentu visi dan misi teologi kita harus sampai
pada aspek keselamatan (soteriologi) yang bersifat universal,
yaitukeselamatan yang menjangkau seluruh ciptaan Tuhan (manusia, alam, dan
sebagainya) dalam rumah tangga dunia.
Kita semua
yang hidup saat ini, sebenarnya memiliki peran sebagai penatalayan bersama
penatalayan yang lainnya di “rumah dunia” – yang juga tempat tinggal Allah – di
mana Allah adalah Sang Kepala Rumah Tangga. Oleh karena itu, sebagai
penatalayan, maka kita sebenarnya tidak berhak sepenuh-penuhnya atas ciptaan
Allah yang lain – dalam hal ini lingkungan hidup dan isinya. Dalam tugas
tersebut, kita harus sesuai dengan perencanaan Allah. Kita mempunyai tanggung
jawab dan kewajiban untuk berbagi tempat dan hasil bumi dengan sesama kita dan
juga dengan generasi yang akan datang di rumah kita (orientasi kehidupan yang
futuris).
Dari sini
diperoleh kesimpulan bahwa semua yang ada saling mempengaruhi, tanpa ada status
manusia sebagai penguasa dan alam sebagai objek penguasaan, karena sampai kapan
pun, manusia tidak bisa menjadi penguasa semesta. Ibarat tubuh, apabila kita
tidak memelihara kesehatan tubuh kita, misalnya dengan istirahat yang teratur
dan makan-minum yang baik, maka lama-kelamaan kita akan sakit. Sakit itu tidak
hanya dirasakan oleh bagian tubuh tertentu, tetapi juga oleh seluruh tubuh.
Oleh karena itu, manusia – sebagai ciptaan yang berakal budi – sudah seharusnya
lebih arif dalam menatalayani dunia ini. Kesadaran dan penyadaran bahwa jumlah
manusia penghuni bumi semakin banyak dengan kebutuhannya yang seolah-olah tak
terbatas, sedangkan sumber energi bumi yang terbatas, menuntut kita untuk
benar-benar arif dalam berelasi dengan lingkungan hidup.
Kesulitan
muncul ketika orientasi manusia dikuasai motif ekonomi yang profit oriented
didukung faktor politik yang tidak ramah lingkungan. Di sinilah peran Gereja
ditantang. Apakah ia berani menjadi nabi yang memperingatkan para pemimpin (di
dunia) dalam menentukan kebijakannya, ataukah justru ia kehilangan peran
kenabiannya. Jika ia tidak berani, maka misi Gereja, yaitu menjadi mitra
pendamaian dan penciptaan Allah akan gagal. Diperlukan sebuah kerjasama dan
jaringan relasi yang konsisten dan terus-menerus antara Gereja dan
lembaga-lembaga di dunia dalam menangani krisis lingkungan hidup dan
mengkritisi kebijakan ekonomi dan politik pemerintah yang berkenaan dengan
lingkungan hidup.
Kerusakan
Lingkungan dan Antroposentrisme
Pembahasan mengenai kerusakan lingkungan bukanlah hal
baru. Kian mencuatnya perilaku manusia yang merusak atau tidak peduli pada
lingkungan, lalu, wacana ini menjadi perhatian baik filsuf, saintis, pun
teolog. Eric Katz mengakui, wacana mengenai hal ini, lantas coba dicari apa
penyebabnya dan gagasan apa yang kecenderungannya melegalkan perusakan
lingkungan (baca: penguasaan lingkungan oleh manusia). Dalam perdebatan
intelektual itu, lalu dilirik Kitab Perjanjian Lama Yudaisme yang notabene
seolah-olah menekankan kekuasaan manusia lebih besar dibanding ciptaan lain
(antroposentrisme). Kejadian 1: 28: “…beranakcuculah
dan penuhilah bumi dantaklukan
itu, berkuasalah atas ikan-ikan
di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di
bumi,”diklaim membawa masalah. Dalam perintah ini, kuasa manusia untuk
memerintah, kedudukannya sebagai raja yang menyerupai Allah.
Perintah “taklukanlah bumi” membuat kita bertanya:
kalau begitu, bolehkah manusia sesuka hati menaklukan bumi (menebang pohon sembarangan,
mengambil isi bumi, mengambil pasir yang notabene sering menimbulkan bencana
bagi manusia itu sendiri). Atau sebenarnya apa maksud dari perintah ini? Kita
tahu, tindakan para pengusaha yang menaklukan bumi dengan menebang kayu untuk
keperluan industri telah melahirkan problem mengerikan: bencana. Di kota-kota
besar, polusi semakin mengancam gara-gara pepohonan kian menghilang dibabat
manusia. Jadi, kerusakan lingkungan bukan hanya berdampak pada lingkungan
secara an sich tetapi juga berdampak pada manusia: mengalami
penderitaan, bahkan kematian.
buat teman teman semoga posting ku ini berguna,,,
BalasHapusterima kasih atas kunjungan nya,,