Senin, 16 Juli 2012

makalah ISBD manusia dan lingkungan


KORELASI MANUSIA DENGAN KERUSAKAN LINGKUNGAN 
  • Pendahuluan
Komunitas bumi dalam krisis. Tidak ada yang bisa menyanggah pernyataan dan kenyataan tersebut. Selain adanya konflik ekonomi, sosial-politik dan peperangan, krisis yang mengancam lebih banyak orang adalah krisis lingkungan hidup. Secara umum, krisis lingkungan hidup didorong oleh dua hal berikut ini, yaitu:
  1. Pertambahan penduduk yang begitu pesat yang menuntut pemenuhan kebutuhan yang tak terbatas (bahan makanan, bahan bakar, energi, dsb).
  2. Kemajuan di pelbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
Krisis ini sebenarnya sudah lama terjadi, namun agaknya manusia (secara keseluruhan) belum menyadari akan bahaya laten yang terdapat di dalamnya. Manusia masih asyik menjadi penguasa alam semesta1. Manusia belum menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta ini, sehingga krisis lingkungan hidup belum menjadi perhatian bersama. Padahal, dari berbagai definisi tentang lingkungan hidup yang ada, kita diingatkan bahwa lingkungan hidup adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari lingkungan hidup; dan keduanya saling berinteraksi dalam sebuah ekosistem.

Manusia merupakan komponen biotik lingkungan yang memiliki daya fikir dan penalaran yang tinggi. Disamping itu manusia memiliki budaya, pranata sosial dan pengetahuan sertaBumi semakin rusak karena keserakahan manusia. Akibatnya, frekuensi dan eskalasi bencana di muka bumi yang disebabkan oleh perilaku manusia (man made disaster) dan akibat kebijakan (policy made disaster) semakin meningkat. Perusakan bumi akibat kebijakan adalah yang paling berbahaya. Karena hal tersebut dilakukan secara sistematis, terlembaga, rapi, dan “sah” secara hukum, yang dilakukan atas nama kebijakan pemerintah, atas nama pendapatan dari aktivitas perusahaan, serta atas nama legitimasi lembaga politik dan legitimasi ilmu pengetahuan dari lembaga pendidikan ataupun konspirasi mereka dalam sebuah jejaring untuk memperdagangkan bumi.
Pemanasan global yang berakibat pada perubahan iklim (climate change) belum menjadi mengedepan dalam kesadaran multipihak. Pemanasan global (global warming) telah menjadi sorotan utama berbagai masyarakat dunia, terutama negara yang mengalami industrialisasi dan pola konsumsi tinggi (gaya hidup konsumtif). Tidak banyak memang yang memahami dan peduli pada isu perubahan iklim. Sebab banyak yang mengatakan, memang dampak lingkungan itu biasanya terjadi secara akumulatif. Pada titik inilah masalah lingkungan sering dianggap tidak penting oleh banyak kalangan, utamanya penerima mandat kekuasaan dalam membuat kebijakan.
Pemicu utama adanya perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming) adalah meningkatnya emisi karbon, akibat penggunaan energi fosil (bahan bakar minyak, batubara dan sejenisnya, yang tidak dapat diperbarui). Penghasil terbesarnya adalah negeri-negeri industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China, dll. Ini diakibatkan oleh pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat negera-negara utara yang 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembangtinggi dari penduduk negara selatan. Untuk negara-negara berkembang meski tidak besar, ikut juga berkontribusi dengan skenario pembangunan yang mengacu pada pertumbuhan. Memacu industrilisme dan meningkatnya pola konsumsi tentunya, meski tak setinggi negara utara. Industri penghasil karbon terbesar di negeri berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan tambang (migas, batubara dan yang terutama berbahan baku fosil). Selain kerusakan hutan Indonesia yang tahun ini tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat yang rusak hutannya.
Menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Sebuah lembaga dibawah PBB, tetapi kuasanya melebihi PBB. Menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10. selanjutnya adalah ketersediaan air di negeri-negeri tropis berkurang 10-30 persen dan melelehnya Gleser (gunung es) di Himalaya dan Kutub Selatan. Secara general yang juga dirasakan oleh seluruh dunia saat ini adalah makin panjangnya musim panas dan makin pendeknya musim hujan, selain itu makin maraknya badai dan banjir di kota-kota besar (el Nino) di seluruh dunia. Serta meningkatnya cuaca secara ekstrem, yang tentunya sangat dirasakan di negara-negara tropis

  • Manusia dan Komunitas Bumi
Terjadinya krisis lingkungan hidup saat ini tentunya tidak terlepas dari bagaimana manusia berelasi dengan lingkungannya. Relasi ini pun ternyata mengalami perkembangan sejak keberadaan manusia.
Pada awalnya, ketika agama-agama primitif masih berkembang, manusia memandang segala sesuatu yang ada di sekitarnya secara religius. Ada proses pensakralan terhadap lingkungan hidup, sehingga pola yang dikembangkan adalah subjek-subjek. Demikian pula yang terjadi pada masyarakat yang masih tradisional, di mana masih ada tabu-tabu (pamali-pamali) yangdikembangkan. Selain itu pandangan hidup dan sikap religius yang dikembangkan berdasarkan pengalaman eksistensial mereka, turut menumbuhkan kesadaran ekologis mereka.Akan tetapi ketika terjadi proses desakralisasi yang ditunjang dengan tumbuh-berkembangnya agama monoteis, maka lingkungan hidup tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral atau sebagai subjek, tetapi objek. Saat itulah manusia mulai menjadi penguasa atas lingkungan hidup dan kini kita diperhadapkan pada krisis lingkungan hidup yang parah. Th. van den End memberikan argumentasi yang dikemukakan oleh beberapa tokoh mengenai dari mana datangnya krisis yang sedang kita alami ini dikaitkan dengan kekristenan, yaitu
·         Menurut Lynn White, kekristenan dipersalahkan karena menempatkan manusia pada pusat dunia, karena sifat anthroposentrisnya. Kekristenan membuat manusia percaya bahwa dirinya merupakanpusat alam semesta, dan bahwa seluruh alam hanya diciptakan untuk melayani dia.
·         Menurut Ritchie Lowrie, Calvinisme harus dipersalahkan karena mengajak manusia untuk bekerja keras. Akibatnya tak bisa tidak adalah pertumbuhan ekonomi yang besar. Timbullah dunia perindustrian modern dan terjadilah krisis lingkungan.
·         Theodore Roszak, yang bertolak dari pengertian “teknokrasi”. Teknokrasi berarti bahwa kehidupan manusia dan seluruh lingkungannya mau diatur oleh teknik dan ilmu-ilmu pengetahuan. Tidak boleh ada proses-proses spontan, karena yang bersifat spontan tidak bisa diperhitungkan sebelumnya, dan membahayakan tujuan yang besar, yaitu menaklukkan dunia kepada manusia dan menghasilkan produksi barang-barang yang sebesar mungkin. Dengan adanya sikap ini, manusia memandang segala sesuatu di sekitarnya, termasuk sesamanya manusia, sebagai obyek semata-mata; ia tidak berpartisipasi di dalam kehidupan di sekitar dirinya, ia menjadi terasing daripadanya. Roszak juga mempermasalahkan agama Kristen yang menempatkan manusia dalam relasi subjek-objek dengan alam, dan menganggap alam sebagai kurang sempurna dan perlu diperbaiki.

Dari pemaparan di atas, kita dapat melihat bahwa seolah-olah kekristenan turut bersalah atas kerusakan lingkungan hidup. Hal ini tentunya harus dikritisi lebih lanjut. Karena jangan-jangan, “kekristenan” telah salah dalam menafsirkan Alkitab ataupun telah dipengaruhi olehtujuan-tujuan politis dan ekonomis, sehingga dikatakan turut merusak lingkungan hidup. Selain itu, di bagian dunia yang minoritas Kristen, toh terjadi juga krisis lingkungan hidup. Artinya, ada berbagai faktor penyebab dari krisis yang terjadi. Lagipula, jika kita memahami secara utuh berita Alkitab tentang lingkungan hidup, maka sebenarnya kekristenan memiliki sumbangsih yang besar dalam pelestarian lingkungan hidup.
Pada dasarnya antropologi kristen memandang manusia sebagai pribadi yang interpersonal sekaligus sebagai pribadi interrelasional dengan ciptaan lain di dalam suatu komunitas hidup di bumi. Manusia juga dimengerti sebagai mahluk ciptaan berkesadaran diri yang diundang masuk ke dalam hubungan interpersonal dengan pencipta dan menjadi mitra Pencipta dalam menjaga dan memelihara ciptaan. Manusia itu mitra utama pencipta, jadi pada hakekatnya manusia lebih merupakan malaikat pelindung dari pada setan penghancur bagi alam karena dalam dirinya terkandung martabat unik yang berbeda sekaligus mengatasi ciptaan yang lain.

  • Kesadaran Manusia akan Ekologi melalui Teologi Lingkungan
Kesadaran akan perlunya usaha pelestarian lingkungan tidak muncul sekali jadi. Kesadaran itu muncul berangsur-angsur melalui pengalaman interaksi manusia dengan lingkungannya. Manusia semakin menyadari bahwa antara dirinya dan lingkungannya terdapat hubungan yang sangat erat tak terpisahkan. Kesadaran itu akhirnya melahirkan suatu disiplin ilmu yang baru, yang disebut ekologi.
Perhatian akan masalah lingkungan hidup di zaman modern ini dimulai pada dasawarsa 50-an di Amerika Serikat ketika terjadi pencemaran di kota Los Angeles akibat asap (smoke fog) hasil pembakaran industri dan kendaraan bermotor. Pada dasawarsa yang sama masyarakat Jepang digemparkan oleh peristiwa pencemaran limbah merkuri (Hg) di Teluk Minamata yang memakan korban ribuan jiwa. Lama-kelamaan perhatian akan krisis lingkungan hidup ini menjadi keprihatinan masyarakat dunia secara bersama, termasuk di Indonesia – yang baru muncul pada dekade 60-an.
Salah satu pokok yang ramai diperdebatkan dalam gerakan kesadaran ekologi ini ialah hubungan antara pembangunan dan lingkungan hidup. Ada yang menuduh pembangunan sebagai penyebab terjadinya kerusakan lingkungan. Tetapi ada juga yang mengatakan sebaliknya. Kerusakan lingkungan hanya dapat diatasi melalui pembangunan, sehingga kalangan ini (negara-negara industri maju) menuduh negara-negara yang sedang berkembang sebagai penyebab terjadinya pemanasan global.
Secara ekstrim, bisa dibilang masalah kepedulian lingkungan kini hanya mitos belaka. Akibatnya kini kita rasakan, dimana bencana datang silih berganti. Tampaknya, rangkaian penderitaan itu belum juga mau berhenti. Secara materi, kerugian sudah tak terhitung dan yang paling parah adalah hancurnya ekosistem secara keseluruhan di daerah bencana. Seperti banyak diekspos, rentetan bencana itu adalah akibat dari tingkat eksploitasi terhadap lingkungan yang sudah sangat mengkhawatirkan.
Teologi lingkungan adalah tuntutan kesadaran beragama yang memiliki keterlibatan dan keberpihakan penuh kepada lingkungan. Pembumian teologi lingkungan ini bertujuan dan berperan untuk mendekonstruksi, menguji kembali sikap hidup dan tingkah laku kita terhadap alam. Teologi lingkungan adalah sebuah perspektif teologi tentang alam semesta yang mengkaji ulang posisi manusia dan tanggung jawab etisnya dalam relasi kosmos. Ia yang nantinya akan membongkar keyakinan bahwa manusia dan alam adalah dua “dunia” yang berbeda, yaitu manusia sebagai ”pusat” (core) dan alam sebagai hal yang subordinat aliasberbeda, yaitu manusia sebagai ”pusat” (core) dan alam sebagai hal yang subordinat alias ”yang lain” (the others). Pemahaman biner inilah yang seolah menjustifikasi umat manusia sebagai subyek yang bisa seenaknya mengeksploitasi alam.
Dengan pembumian teologi lingkungan, diharapkan kita akan sadar bahwa semua ciptaan Tuhan (manusia, alam, hewan) mempunyai hak untuk bereksistensi. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang berhak menguasai sesamanya, selain Tuhan. Karena dalam tradisi agama-agama, semua karya di muka bumi berpusat pada Yang Esa, meski secara skema muncul dalam pelbagai konsep, seperti Allah, Tao, ataupun Brahman.

  • Refleksi Teologis Kesadaran Manusia dan Kerusakan Lingkungan
Banyak tuduhan yang dialamatkan pada manusia sebagai penghancur homeostatis alam. Thomas Berry berbicara tentang manusia sebagai makhluk bumi yang jahat dan perusak. Ia juga menyebut kehadiran manusia sebagai penyebab penderitaan dunia. 5Bonaventura, filsuf-teolog di zaman patristik, dalam bukunya, “Perjalanan Menuju Jiwa Allah”, juga menyebut alam semesta sebagai ”kitab alam” yang ditulis Allah sebagai media manusia untuk bersatu dengan-Nya. Pasalnya, alam adalah ”sakramen” Tuhan, tangga untuk menuju keharmonisan bersama Sang Khalik. Sehingga, jika kita menyadari hal tersebut, tentu visi dan misi teologi kita harus sampai pada aspek keselamatan (soteriologi) yang bersifat universal, yaitukeselamatan yang menjangkau seluruh ciptaan Tuhan (manusia, alam, dan sebagainya) dalam rumah tangga dunia.
Kita semua yang hidup saat ini, sebenarnya memiliki peran sebagai penatalayan bersama penatalayan yang lainnya di “rumah dunia” – yang juga tempat tinggal Allah – di mana Allah adalah Sang Kepala Rumah Tangga. Oleh karena itu, sebagai penatalayan, maka kita sebenarnya tidak berhak sepenuh-penuhnya atas ciptaan Allah yang lain – dalam hal ini lingkungan hidup dan isinya. Dalam tugas tersebut, kita harus sesuai dengan perencanaan Allah. Kita mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk berbagi tempat dan hasil bumi dengan sesama kita dan juga dengan generasi yang akan datang di rumah kita (orientasi kehidupan yang futuris).
Dari sini diperoleh kesimpulan bahwa semua yang ada saling mempengaruhi, tanpa ada status manusia sebagai penguasa dan alam sebagai objek penguasaan, karena sampai kapan pun, manusia tidak bisa menjadi penguasa semesta. Ibarat tubuh, apabila kita tidak memelihara kesehatan tubuh kita, misalnya dengan istirahat yang teratur dan makan-minum yang baik, maka lama-kelamaan kita akan sakit. Sakit itu tidak hanya dirasakan oleh bagian tubuh tertentu, tetapi juga oleh seluruh tubuh. Oleh karena itu, manusia – sebagai ciptaan yang berakal budi – sudah seharusnya lebih arif dalam menatalayani dunia ini. Kesadaran dan penyadaran bahwa jumlah manusia penghuni bumi semakin banyak dengan kebutuhannya yang seolah-olah tak terbatas, sedangkan sumber energi bumi yang terbatas, menuntut kita untuk benar-benar arif dalam berelasi dengan lingkungan hidup.
Kesulitan muncul ketika orientasi manusia dikuasai motif ekonomi yang profit oriented didukung faktor politik yang tidak ramah lingkungan. Di sinilah peran Gereja ditantang. Apakah ia berani menjadi nabi yang memperingatkan para pemimpin (di dunia) dalam menentukan kebijakannya, ataukah justru ia kehilangan peran kenabiannya. Jika ia tidak berani, maka misi Gereja, yaitu menjadi mitra pendamaian dan penciptaan Allah akan gagal. Diperlukan sebuah kerjasama dan jaringan relasi yang konsisten dan terus-menerus antara Gereja dan lembaga-lembaga di dunia dalam menangani krisis lingkungan hidup dan mengkritisi kebijakan ekonomi dan politik pemerintah yang berkenaan dengan lingkungan hidup.
Kerusakan Lingkungan dan Antroposentrisme
Pembahasan mengenai kerusakan lingkungan bukanlah hal baru. Kian mencuatnya perilaku manusia yang merusak atau tidak peduli pada lingkungan, lalu, wacana ini menjadi perhatian baik filsuf, saintis, pun teolog. Eric Katz mengakui, wacana mengenai hal ini, lantas coba dicari apa penyebabnya dan gagasan apa yang kecenderungannya melegalkan perusakan lingkungan (baca: penguasaan lingkungan oleh manusia). Dalam perdebatan intelektual itu, lalu dilirik Kitab Perjanjian Lama Yudaisme yang notabene seolah-olah menekankan kekuasaan manusia lebih besar dibanding ciptaan lain (antroposentrisme). Kejadian 1: 28: “…beranakcuculah dan penuhilah bumi dantaklukan itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi,”diklaim membawa masalah. Dalam perintah ini, kuasa manusia untuk memerintah, kedudukannya sebagai raja yang menyerupai Allah.
Perintah “taklukanlah bumi” membuat kita bertanya: kalau begitu, bolehkah manusia sesuka hati menaklukan bumi (menebang pohon sembarangan, mengambil isi bumi, mengambil pasir yang notabene sering menimbulkan bencana bagi manusia itu sendiri). Atau sebenarnya apa maksud dari perintah ini? Kita tahu, tindakan para pengusaha yang menaklukan bumi dengan menebang kayu untuk keperluan industri telah melahirkan problem mengerikan: bencana. Di kota-kota besar, polusi semakin mengancam gara-gara pepohonan kian menghilang dibabat manusia. Jadi, kerusakan lingkungan bukan hanya berdampak pada lingkungan secara an sich tetapi juga berdampak pada manusia: mengalami penderitaan, bahkan kematian.

rozaliotomotif@gmail.com

1 komentar:

  1. buat teman teman semoga posting ku ini berguna,,,
    terima kasih atas kunjungan nya,,

    BalasHapus